Berita Ekonomi/bisnis

Fakta Bertambahnya Jumlah Orang Miskin di Indonesia

Fakta Bertambahnya Jumlah Orang Miskin di Indonesia – Pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia selama hampir setahun. Dampak yang dirasakan sangat besar. Bukan hanya sektor kesehatan, tapi perekonomian juga sedang kacau balau. Dampaknya sangat serius, misalnya angka kemiskinan terus meningkat.

Fakta Bertambahnya Jumlah Orang Miskin di Indonesia

Sumber : finance.detik.com

imrpublications – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim kebijakan yang diambil pemerintah tepat dalam menurunkan angka kemiskinan saat pandemi Covid-19. Saat itu, angka kemiskinan masih berada di level satu digit, atau 9,78%.

Ia mengatakan dalam rapat kerja bersama dengan Panitia XI DPR RI, Rabu (27/1): “Jika pemerintah tidak mengambil langkah tersebut, perkiraan kemiskinan bisa meningkat 10,2%.

Ia mengatakan, selama pandemi, pemerintah terus menyalurkan bantuan sosial (bansos) dalam bentuk bantuan tunai langsung. Bantuan disediakan oleh desa yang dikonversi melalui dana desa.

Dia berkata: “Ini cukup untuk menahan peningkatan kemiskinan di daerah pedesaan.”

Sementara itu, dalam rangka menekan angka kemiskinan di perkotaan, pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya, antara lain sertifikasi pra kerja, bantuan tunai langsung kepada masyarakat Jabodetabek, dan bantuan produktif untuk UMKM.

Di kutip dari merdeka.com , Ia menjelaskan: “Semua ini untuk mengurangi tekanan yang luar biasa, terutama di kota atau perkotaan, terutama di kota-kota besar di luar Jawa dan Jawa.”

Meski berhasil memberantas kemiskinan, angka kemiskinan terus meningkat. Fakta penduduk miskin Indonesia bertambah 1,13 juta .

1. Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 1,13 Juta Orang

Sumber : merdeka.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mencontohkan, hingga September 2020, penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta jiwa, atau setara dengan 10,19% dari total penduduk Indonesia. Dibandingkan dengan keadaan Maret 2020, angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,13 juta (0,41%), dan juga meningkat 2,76 dibandingkan dengan September 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan di kantornya di Jakarta, Senin (15/2): “Dengan demikian, hingga September 2021, jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah 27,55 juta atau 10,9%.”

Meningkatnya jumlah penduduk miskin akibat pandemi Covid-19. Namun, pemerintah masih dapat menahan pertumbuhan ini dengan memperkuat perlindungan tunai, bantuan tunai langsung, UMKM, dll.

Dia berkata: “Hanya saja angka ini telah meningkat dibandingkan dengan simulasi berbagai lembaga dan perkiraan tingkat kemiskinan, tetapi peningkatannya tidak sebesar yang diharapkan.”

Ia mengatakan, Bank Dunia atau Bank Dunia menerbitkan laporan terbaru tentang angka kemiskinan negara pada Juni 2020. Laporan tersebut menunjukkan bahwa jika pemerintah tidak melaksanakan rencana perlindungan sosial, angka kemiskinan di Indonesia akan meningkat 10,7% menjadi 11,6%.

Ia menjelaskan: “Dan hasil BPS menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan, kenaikan pada September 2020 hanya 0,97%. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa berbagai program perlindungan sosial yang dirancang pemerintah selama pandemi telah membantu mereka. ”

Selain itu, pemerintah saat ini sedang memperluas cakupan perlindungan sosial, tidak hanya menyentuh 40% masyarakat bawah, tetapi juga meluas hingga 60%.

Ia mengatakan: “Oleh karena itu, meski jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 10,19%, hasilnya masih lebih rendah dari ekspektasi semua pihak karena berbagai rencana perlindungan sosial yang dirumuskan oleh pemerintah.”

Baca juga : Waspadai 10 Gejala Baru Covid-19 yang Tak Terduga

2. Kemiskinan Bertambah Akibat Pengangguran di Tengah Pandemi

Sumber : republika.co.id

Penanggung Jawab BPS Suhariyanto mengungkapkan beberapa faktor penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia. Pertama, pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung telah memengaruhi perubahan perilaku demografis dan aktivitas ekonomi. Ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 3,49% tahun-ke-tahun di kuartal ketiga, sementara pengeluaran konsumsi rumah tangga turun 4,04% tahun-ke-tahun.

Suhariyanto mengatakan dalam jumpa pers, Senin (15/2): “Antara Maret 2020 dan September 2020, secara keseluruhan laju inflasi tercatat 0,12%, sedangkan inflasi inti tercatat 0,84%.”

Faktor lainnya adalah kenaikan harga eceran beberapa komoditas utama, seperti daging sapi naik 1,51%, susu kental 1,07%, minyak goreng 2,67%, tepung terigu 2,76%, dan ikan kembung 1,07%.

Meski ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, seperti beras turun 0,49%, ayam 3,52%, gula 6,54%, lada 32,37%, dan telur 6,12%.

Terakhir, angka pengangguran akibat pandemi Covid-19 juga mengalami peningkatan. Suhariyanto mengatakan: “Pada Agustus 2020, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mencapai 7,07%. Peningkatan year-on-year sebesar 1,84 persen.”

3. Peningkatan Kemiskinan di Kota

Sumber : republika.co.id

Suhariyanto, Kepala BPS, mengatakan persentase penduduk miskin pada September 2020 sebagian besar berada di perdesaan yaitu sebesar 13,20%. Sementara proporsi penduduk miskin perkotaan hanya 7,88%.

Ia mengatakan di kantornya di Jakarta, Senin (15/2): “Jika kita melihat komposisi penduduk miskin antara perkotaan dan perdesaan, maka proporsi penduduk miskin di perdesaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan.”

Namun pertumbuhan penduduk miskin di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Keadaan ini akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

“September 2020 berdampak lebih besar terhadap kota-kota di sana. Terlihat penduduk miskin perkotaan akibat pandemi Covid-19 meningkat 1,3%. Di saat yang sama, di pedesaan, penduduk miskin perkotaan meningkat, Tapi hanya separuhnya yang 0,6%, ”jelasnya.

Ia menambahkan, garis kemiskinan untuk September 2020 dihitung berdasarkan per kapita per bulan sebesar Rp458.947. Di antaranya 73,87% digunakan untuk makanan.

Ia menjelaskan: “Oleh karena itu, melihat dari angka ini, kita harus memberikan perhatian khusus untuk mencegah fluktuasi besar pada komoditas seperti beras dan makanan lainnya.”

Sementara komoditas yang berdampak pada garis kemiskinan tidak pernah berubah. Yang pertama nasi, yang kedua rokok, dan yang ketiga telur.

Baca juga : 10 Negara Jatuh Resesi Ekonomi akibat Pandemi

4. Kemiskinan Tertinggi di Papua dan Maluku

Sumber : batasnegeri.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mencontohkan, hingga September 2020, penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta jiwa, atau setara dengan 10,19% dari total penduduk Indonesia.

Suhariyanto, Kepala BPS, mengatakan dari angka tersebut, proporsi penduduk miskin terbesar ada di Kepulauan Maluku dan Papua. Pada September 2020, penduduk miskin di wilayah ini memiliki angka iuran tertinggi, yaitu sekitar 20,65% dari total penduduk miskin.

Kalau kita lihat, penduduk miskin di Maluku dan Papua sekitar 1,53 juta. Terdiri dari 139.000 orang di perkotaan dan 1,28 juta orang di pedesaan.

Ia menjelaskan dalam siaran pers BPS di kantor Jakarta, Senin (15/2): “Terlihat proporsi penduduk miskin terbesar ada di Maluku dan Papua, mencapai 20,65%.”

Sementara dari sisi jumlah, sebagian besar masyarakat miskin masih berada di Pulau Jawa yaitu 14,75 juta jiwa. Angka ini mencakup 8,1 juta di perkotaan dan 6,64 juta di perdesaan.

Dia menjelaskan: “Pada saat yang sama, Kalimantan memiliki jumlah orang miskin paling sedikit.”

Jumlah penduduk miskin di Kalimantan telah mencapai 1,01 juta jiwa. Angka ini termasuk penduduk miskin di perkotaan yang mencapai 375.000, sedangkan penduduk miskin di pedesaan mencapai 640.000.

Similar Posts