Uncategorized

10 Fakta Kudeta Di Myanmar

10 Fakta Kudeta Di Myanmar – Setelah kudeta terhadap Aung San Suu Kyi, militer memperoleh kembali kekuasaan di Myanmar. Ini adalah kudeta militer pertama sejak 1988.

10 Fakta Kudeta Di Myanmar

Sumber : liputan6.com

imrpublications – Perselisihan antara pemerintahan Aung San Suu Kyi dan militer karena militer tidak mengaku kalah dalam Pemilu 2020.

Kudeta tak berdarah ini bukanlah kecelakaan. Sebelum mengambil tindakan, para pemimpin militer telah membuat pernyataan seperti kudeta. Para diplomat Barat juga menuntut militer menghormati hasil demokrasi.

Aksi militer anti demokrasi ini telah menimbulkan respon dunia. Nasib orang Rohingya juga menjadi masalah.

Berikut 10 fakta tentang Kudeta di Myanmar yang di kutip liputan6.com dari berbagai sumber:

1. Kudeta 1 Februari

Sumber : kompas.tv

Kudeta dimulai pada pagi hari Senin, 1 Februari 2021. Menurut laporan, Perdana Menteri Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Minte ditangkap oleh militer di Nay Pyi.

Banyak tokoh dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berkuasa juga ditangkap. Juru bicara partai mengatakan kepada media bahwa militer melancarkan kudeta.

Myo Yunt, juru bicara Liga Demokratik, mengatakan: “Mengingat situasi yang kita lihat sekarang sedang terjadi, kita harus berasumsi bahwa militer sedang melancarkan kudeta.”

Lokasi Suu Kyi masih belum diketahui pada hari kedua penangkapannya.

Baca juga : 8 Fakta Tanah Longsor di Kabupaten Sumedang

2. Jenderal Murah Senyum Rebut Kekuasaan

Sumber : matain.id

Menurut laporan, beberapa jam setelah Suu Kyi ditangkap, militer Myanmar mengumumkan di televisi militer bahwa pemerintahan darurat selama satu tahun akan dibentuk.

Myint Swe, wakil presiden pertama, diangkat menjadi presiden. Namun, kekuasaan tertinggi ada di tangan Jenderal Min Aung Hlaing.

Jenderal Min adalah kepala militer Myanmar. Orang yang tersenyum ini sering membuat kata-kata sebelum politik menjadi kenyataan.

3. Kabinet Dirombak

Sumber : liputan6.com

Militer Myanmar juga memecat 24 menteri dan perwakilan dari kabinet Aung San Suu Kyi.

Sambil mengkonsolidasikan kekuasaan, militer juga menunjuk 11 orang ke kabinet untuk bertanggung jawab atas menteri keuangan, kesehatan, informasi, hubungan luar negeri, pertahanan, perbatasan, dan negara.

Meski ada kudeta, militer tetap berjanji untuk mempertahankan demokrasi multi partai.

4. Komentar AS dan China

Sumber : cnbcindonesia.com

Amerika Serikat dan China berkomentar dengan nada berbeda.

Amerika Serikat dengan tegas mengutuk kudeta militer di Myanmar. Presiden Biden mengatakan jika militer terus melakukan kudeta, pihaknya siap memberikan sanksi.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa hubungan kedua negara tetap bersahabat. Media resmi China mengisyaratkan bahwa negara-negara Barat tidak boleh ikut campur dalam urusan Vietnam.

Fan Hongwei, direktur Pusat Asia Tenggara, berkata: “Myanmar adalah negara yang tidak menerima campur tangan dari kekuatan besar. China memelihara hubungan baik dengan pemerintah dan militer, dan berharap kedua belah pihak dapat membuat kompromi untuk menjaga perdamaian dan stabilitas. ā€¯Universitas Xiamen

5. Negara ASEAN Tak Kompak

Sumber : bolasport.com

Pernyataan ASEAN tidak koheren. Faktanya, lebih banyak orang yang tidak mau mengkritik.

Filipina, Kamboja dan Thailand menganggap kudeta militer Myanmar sebagai masalah dalam negeri.Meski ketiga negara pernah mengalami kudeta militer, mereka tidak akan berkomentar lebih lanjut.

Sementara Vietnam, Brunei Darussalam, dan Laos tak serta merta merespon.

Di sisi lain, Indonesia, Singapura dan Malaysia mengungkapkan keprihatinan yang mendalam dan meminta semua pihak untuk menahan diri dan mengupayakan penyelesaian secara damai.

6. Respons Diaspora Myanmar

Sumber : liputan6.com

Militer di dua kota Naypyidaw dan Yangon masih bersiaga, tetapi mereka tidak dapat menahan warga Myanmar yang memprotes kudeta asing.

Begitu kabar kudeta keluar, warga Myanmar di Bangkok langsung protes ke Kedutaan Besar Myanmar. The Bangkok Post mengatakan bahwa tiga warga Thailand yang berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut ditahan oleh polisi.

Banyak pihak juga melaporkan bahwa sekitar 700 warga Myanmar di Tokyo memprotes kudeta tersebut. Mereka berkumpul di depan United Nations University di Shibuya.

Baca juga : 7 Kasus Genosida Sepanjang Sejarah Modern

7. Nasib Rohingya Makin Tidak Jelas

Sumber : dw.com

Jenderal Min Aung Hlaing adalah pemimpin militer Myanmar, jadi dia memiliki rekam jejak yang buruk di Rohingya. Tentara Amnesty International bertanggung jawab atas pembersihan etnis Rohingya.

Amnesti meminta Jenderal Min menghentikan kekerasan terhadap Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Amnesty International menulis di situsnya: “Militer Myanmar membunuh wanita, pria dan anak-anak Rohingya, memperkosa wanita dan gadis Rohingya, dan membakar seluruh desa Rohingya.”

Sejauh ini, Amnesty International masih mengajukan petisi kepada Jenderal Min untuk menghentikan kekerasan terhadap Rohingya.

8. Perseturuan Partai NLD dan militer

Sumber : tempo.co

Liga Nasional untuk Demokrasi memenangkan pemilihan umum. Hasil penghitungan yang diumumkan di Komite Pemilihan Umum (UEC) pada November 2020 menunjukkan bahwa Liga Nasional untuk Demokrasi meraih 346 kursi, lebih dari 50% dari total kursi di Parlemen.

Pada saat yang sama, oposisi Partai Persatuan dan Pembangunan (USDP), yang bersatu dengan militer, hanya meraih 25 kursi. USDP menuduh pemungutan suara tersebut curang, tidak bebas dan tidak adil. Mereka mendesak pejabat UEC mundur dan melakukan pemilihan lagi.

Analis politik Khin Zaw Win memperingatkan kekacauan dalam beberapa bulan mendatang. Situasi ini merupakan konsekuensi, karena UEC dipenuhi oleh orang-orang tidak kompeten yang berdiri di pihak yang berwenang.

9. Penculikan Aung San Suu Kyi

Sumber : dw.com

Militer Myanmar menculik wanita berusia 75 tahun itu pada Senin pagi dan menculik wanita berusia 75 tahun itu bersama dengan Presiden Win Myint dan para pemimpin Liga Demokratik lainnya.

Mereka ditahan di tempat yang tidak mereka ketahui sampai ada berita. Tak hanya itu, kondisi Suu Kyi dan narapidana lainnya belum bisa dipastikan.

Penculikan itu terjadi beberapa jam sebelum parlemen baru seharusnya mengadakan pertemuan pertamanya di ibu kota, Naypyidaw. Partai Suu Kyi mengendalikan mayoritas suara parlemen setelah menang telak dalam pemilu 2020.

10. Militer kuasai Naypyitaw dan Yangon

Sumber : medcom.id

Tentara Myanmar memobilisasi personel buat melindungi 2 kota berarti, ialah bunda kota Naypyidaw serta kota pusat perdagangan Yangon. Aparat melindungi obyek berarti semacam Bangunan Parlemen, Gedung Kota Yangon, stasiun tv penguasa serta tempat yang lain.

Komunikasi telepon serta internet terpenggal sedangkan pada hari Senin, namun mereka kembali wajar pada hari Selasa. Terganggunya akses internet membuat bank tidak bisa bekerja.

Pada Selasa, masyarakat menghadiri bank buat menarik duit kas sebab takut suasana ini hendak bertambah serta mengakibatkan luapan ekonomi di negeri yang sudah dibatasi oleh endemi Covid- 19.

Similar Posts